Puisi Dari Seorang Habaib Lover


Di tengah keramaian
Kendaraan, manusia, pabrik,
aku hening
Hiruk pikuk berangsur-angsur sepi
Tak terdengar suara apapun
Lalu kembali keramaian kudengar

Suara di luar hilang,
Suara di tubuh berdentang
Detak jantung bertabuh
Suara di perut bergemuruh
Suara setiap aliran darah
Bagai ramainya lalu lintas di siang hari
Aku hening,
Hiruk pikuk berangsur-angsur sepi
Tak terdengar suara apapun
Lalu kembali keramaian kudengar

Ribuan suara di otak
Layaknya kesibukan di tengah pasar
Suara bising ide, pemikiran, gagasan
Berjejal di kepala
Bagai ramainya suara bising kendaraan

Aku hening,
Suara bising berangsur-angsur sepi
Lalu keramaian kembali kudengar

Suara syahwat melengking
Keinginan hewani mengaum, meringkik
Mengembik, menggonggong dan menderik
Bagai di tengah hutan

Aku hening,
Suara bising berangsur-angsur sepi
Lalu keramaian kembali kudengar

Bisikan setan mendesis
Membujuk di setiap telinga hati
Merayu dengan berbagai janji manis

Aku hening,
Suara bising berangsur-angsur sepi
Lalu keramaian kembali kudengar

Suara lintasan hati mendoktrin
Jeritan sombong, riya, hasad
Jeritan ujub dan prasangka buruk
Mendentum di permukaan batin
Memecahkan kebeningannya

Aku hening,
Suara bising berangsur-angsur sepi
Lalu keramaian kembali kudengar

Keangkuhan ego berkacak pinggang
Busungkan dada dan selalu mengucap
“Aku dan aku dan aku”
“Dariku, milikku, untukku, kembali padaku”

Aku hening,
Suara bising berangsur-angsur sepi

Hening menyelimutiku
Menenggelamkanku dan menarikku
Aku terhapus
Tak ada lagi aku
Tak ada lagi suara
sepi
Sunyi
Hening

Lalu tersingkaplah Kau
Terlihatlah keindahan-Mu
Terdengarlah merdu firman-Mu
Yang tak pernah berhenti
Selalu terdengar

Lalu keramaian kembali kudengar

Aku hening,
Agar dapat mendengar-Mu
Indahnya gemuruh firman-Mu

Ku tak pernah hening dari-Mu                                               By Husin Nabil (Habaib Lover)

 

Pandanganku menuju dada, menembus semesta hati
Kusaksikan bumi yang gersang
Jarang sekali dituruni hujan
Pepohonan yang kering,
Sepanjang pengelihatan hanya,
Pasir, angin debu dan gunung batu
Kulakukan shalat istisqa
bagi tanah tandus ini
Semoga Dia berkenan
Menuang hujan dan menghijaukannya
Ya lathiifan bili ‘ibad, ulthuf binaa
Wasqil bilaad, war ham ‘abiidak ya jawaad, qablal fanaa dunyaa wa diin.     By Husin Nabil (Habaib Lover)

About ridlin

no body reason

Posted on 27 Maret 2012, in Puisi/Syair Habaib Lover. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: